Selasa, 24 Maret 2009

Kapita Selekta Pendidikan

PROBLEMATIKA PENDIDIKAN AGAMA DI SEKOLAH UMUM DAN SOLUSINYA


A. Pengertian Pendidikan Agama Islam
Pendidikan agama islam adalah pendidikan dengan melalui ajaran-ajaran agama Islam, yaitu berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar nantinya setelah selesai dari pendidikan ia dapat memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran agama Islam yang telah diyakininya secara menyeluruh, serta menjadikan ajaran agama Islam itu sebagai suatu pandangan hidupnya demi keselamatan dan kesejahteraan hidup di dunia maupun di akhirat kelak.
Pendidikan agama merupakan bagian pendidikan yang amat penting yang berkenaan dengan aspek-aspek sikap dan nilai, antara lain akhlak dan keagamaan. Oleh karena itu pendidikan agama perlu diketahui, dipahami dan diamalkan oleh manusia Indonesia agar dapat menjadi manusia yang utuh.

B. Kedudukan Pendidikan Agama Islam di Sekolah Umum
Setelah Indonesia merdeka, para pemimpin dan perintis kemerdekaan menyadari betapa pentingnya pendidikan agama. K.H. Dewantara selaku menteri pendidikan, pengajaran dan kebudayaan pada kabinet pertama menyatakan dengan tegas bahwa pendidikan agama perlu dijalankan dengan di sekolah-sekolah negeri.
Oleh karena itu, pemerintah no. 1/SD tanggal 3 Januari 1946 didirikanlah kementerian agama. Menteri agama dengan keputusannya No. 1185/K.J tanggal 20-11 1946 menyempurnakan organisasi kementerian agama dan mengadakan bagian C yang bertugas melaksanakan kewajiban-kewajiban antara lain :
a. urusan pelajaran dan pendidikan agama Islam dan Kristen
b. Urusan pengangkatan guru agama
c. Urusan pengawasan pelajaran agama.

Dalam ketetapan MPRS tanggal 5 Juli 1966 No. XXVII/MPRS 1966 ditetapkan bahwa pendidikan agama menjadi pelajaran di sekolah-sekolah mulai dari sekolah dasar sampai universitas negeri.
Dalam operasionalnya pendidiakn agama di sekolah-sekolah umum diatur oelh Menteri Agama dengan Menteri Pendidikan Kebudayaan (sekarang bernama Menteri Pendidikan Nasional). Di sekolah-sekolah negeri sejak dari pendidikan dasar sampai pendidikan menengah, pendidikan agama dilaksanakan dua jam pelajaran setiap minggunya.

C. Tujuan Pendidikan Agama Islam di Sekolah Umum
Di dalam GBHN tujuan Pendidikan Nasional dikemukakan dengan jelas, bahwa pendidikan nasional berdasarkan Pancasila dan bertujuan untuk meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan, keterampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan agar dapat menumbuhkan manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.
Tujuan pendidikan nasional berdasarkan pancasila juga merupakan tujuan pendidikan agama Islam, karena peningkatan ketaqwaan kepada Tuhan yang Maha Esa sebagaimana yang dimaksudkan oleh GBHN, hanya dapat dibina melalui pendidiakn agama yang intensif dan efektif. Untuk mencapai hal tersebut di atas maka pelaksanaannya dapat ditempuh dengan cara :
a. Membina manusia yang mempu melaksanakan ajaran-ajaran agama Islam dengan baik dan smpurna sehingga mencerminkan sikpa dan tindakan dalam seluruh hidupnya.
b. Menodorong manusia untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.
c. Mendidik ahli-ahli agama yang cukup trampil

Dengan melihat tujuan pendidikan di atas baik pendidikan nasional maupun tujuan pendidikan Islam, tampaknya ada dua dimensi kesamaan yang ingin diwujudkan, yaitu :
a. Dimensi transendental (Lebih hanya sekedar ukhrawi) yang berupa ketaqwaan, keimanan dan keikhlasan.
b. Dimensi duniawi melalui nilai-nilai material sebagai sarananya, seprti pengetahuan,. Kecerdasan, keterampilan, keintelektualan dan sebagainya.

Dengan demikian keberhasilan pendidikan Islam akan membantu terhadap keberhasilan pendidikan nasional. Juga sebaliknya keberhasilan pendidikan nasional secara makro turut membantu pencapaian tujuan pendidikan Islam. Sebab itu keberadaan lembaga pendidikan Islam oleh pemerintah dijadikan mitra untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

D. Problematika Pendidikan Agama Islam di Sekolah Umum
Sebagai pendidikan yang berlebel agama, maka pendidikan Islam memiliki transmisi spiritul yang lebih nyata dalam proses pengajarannya dibanding dengan pendidikan umum. Kejelasannya terletak pada keinginan pendidikan Islam untuk mengembangkan keseluruhan aspek dalam diri anak didik baik aspek intelektual, keilmiahan serta kepribadian. Karena itulah pendidikan memiliki beban yang kompleks.
Diantara problematika pendidikan agama Islam di sekolah umum beserta solusinya adalah sebgai berikut :
a. Guru Agama
masalah utama dalam pendidikan agama Islam adalah guru agama, sebab berhasil atau tidaknya pendidikan agama banyak ditentukan oleh guru agama, walaupun faktor-faktor lain ikut mempengaruhinya, misalnya kelenkapan sarana dan prasarana, sikap orangtua dan keberadaan masyarakat pada umumnya. Masalah besar yang dihadapi sekarang adalah masalah guru agama, baik segi kwantitasnya maupun kualitasnya.
Salah satu tuntutan guru untuk melaksanakan tugasnya sebagai pendidik adalah dengan cara pendekatan kognitif. Karena pendidikan Islam memiliki tiga aspek sasaran, pertama sasaran pengisian otak (transfer of knowledge) disini yang paling ditekaknkan adalah mengisi kognitif peserta didik mulai dari yang sederhana seperti menghafal sampai analisis. Kedua, mengisi hati/ melahirkan sikap positif (transfer of value) sasarannya menumbuhkan kecintaan kepada kebaikan dan membenci kejahatan. Ketiga, perbuatan (transfer of activity) timbul keinginan untuk melakukan yang baik dan menjauhi perilaku yang jelek.
Diantara tiga tersebut yang paling mudah dilakukan oleh seseorang guru adalah pendekatan kognitif, afektif dan psikomotorik, guru perlu merencanakan salah satu bentuk evaluasi dengan mempergunakan tiga pendekatan tersebut, maka guru harus dapat melakukan pendekatan afektif dan psikomotorik.
Disamping guru dapat melakukan pendekatan kognitif, afektif dan psikomotorik, guru perlu merencanakan salah satu bentuk evaluasi dengan mempergunakan tiga pendekatan tersebut, misalnya skala sikap dan penilaian praktek ibadah.
Ada kesan di berbagai sekolah umum bahwa pendidikan agama tertumpu menjadi tanggung jawab guru-guru agama saja, sedangkan guru-guru mata pelajaran lainnya merasa kurang ada hubungannya dengan pendidikan agama. Untuk mengeffektifkan guru agama tersebut maka guru-guru bidang studi lainnya mesti menjadi guru agama yangmenginpilisitkan nilai (value) agama kedalam mata pelajarannya. Sang guru dapat menarik nilai-nilai luhur yang terdapat dalam mata pelajarannya, dan hal ini disebut dengan pendekatan parsial.

b. Peserta Didik
peserta didik berasal dari lingkungan keluarga yang beraneka ragam tingkat pemahaman, pengalaman serta penghayatan agama. Dan hal ini tentu ada peserta didik yang berasal dari keluarga yang sudah memiliki pemahaman, pengalaman dan penghayatan agama yang yang tinggi, tetapi juga ada yang berasal dari kelompok yang sedang dan rendah. Idealnya kelompok-kelompok tersebut harus dipisahkan agar mendapat perlakuan yang berbeda sehingga masing-masing kelompok memperoleh perhatian.

c. Sarana dan Fasilitas
Pendidikan agama sebagaimana pendidikan lainnya juga membutuhkan sarana dan fasilitas. Bila di sekolah umum ada laboratorium IPA, Kimia, Bahasa, maka sebetulnya sekolah juga membutuhkan laboratorium agama disamping mesjid. Laboratorium itu dilengkapi dengan sarana dan fasilitas yang membawa peserta didik untuk libih menghayati agama, misalnya video yang bernafaskan keagamaan, musik dan nyanyian agama, syair, pusi keagamaan, alat-alat peraga pendidikan agama dan lain sebagainya yang merangsang emosional keberagaman peserta didik.
Untuk lebih jelasnya alat pendidikan yang diperlukan adalah sebagai berikut :
a. Media tulis dan cetak seperti al-Qur’an, Hadits, Tauhid, Fiqih dan sebagainya.
b. Benda-benda alam seperti manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, zat padat, zat cair dan sbagainya.
c. Gambar-gambar, lukisan, diagram, dan peta dan lain-lain
d. Gambar yang dapat diproyeksi, baik dengan alat atau tanpa suaru, seperti foto, slide, flim strip, televisi, video dan sebagainya.

E. Alokasi Jam Pelajaran Agama Islam di Sekolah Umum
Pada tahun 1975, kurikulum pendidikan agama yang menyangkut jumlah jam pelajaran telah mengalami pengurangan yaitu dari 4 jam pelajaran menjadi 2 jam pelajaran perminggu untuk SD, dan dari 3 jam pelajaran menjadi 2 jam pelajaran seminggu di sekolah umum.
Memang wajar bahwa untuk menuju terciptanya manusia pembangunan yang berpancasila yang sehat jasmani dan rohaniah diperlukan pendidikan agama yang intensif. Tetapi dengan alokasi waktu yang ada sekarang untuk mencapai maksud tersebut diperlukan guru-guru agama yang mempunyai kecakapan yang istimewa.
Setelah pemberontakan G. 30 S/PKI berhasil ditumpas, pemerintah dan masyarakat menjadi sadar akan peranan pendidikan agama. Maka dalam kurikulum 1968 jumlah jam pelajaran agama di SLTP dan SLTA ditambah menjadi 4 jam pelajaran dalam satu minggu (sebelumnya 2 jam dalam satu minggu), sedangkan di SD menjadi 2 jam pelajaran dalam seminggu untuk kelas 1 dan II, 3 jam pelajaran dalam seminggu untuk kelas III, 4 jam pelajaran dalam seminggu untuk kelas IV, V dan VI.
Pada tahun ajaran 1976 diberlakukan kurikulum 1975 untuk SD, SLTP dan SLTA dengan surat keputusan Menteri P dan K pada tahun 1975. bagi SD masing-masing 2 jam pelajaran untuk kelas I, II, dan III dan masing-masing 3 jam pelajaran untuk kelas IV, V dan VI. Sedangkan untuk SLTP dan SLTA jam pelajaran dibidang studi pendidikan agama Islam 2 jam dalam seminggu, bak untuk kelas I, II dan III.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar